Hot News Internasional Opini

Indonesia di-Lockdown 59 Negara, Kenapa Baru Sadar?

Bagikan Artikel Ini:

Ibrahim
(Ketua Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kota Makassar)
.

Lebootenews.com -OPINI- Indonesia akhirnya di-Lockdown oleh 59 Negara, tentu ini bukan perkara sepele. Dampaknya akan berimbas pada tersumbatnya transaksi transnasional. Kegiatan ekspor-impor menjadi terhambat. Perusahaan rugi besar-besaran. Membuat produksi menurun. Penyimpanan dollar pada kas Negara semakin berkurang. Berakibat pada jatuhnya nilai rupiah terhadap dollar yang lebih tajam.

Pemerintah akhirnya sadar bahaya wabah Covid-19 jika terus dibiarkan. Jelas saja, dalam perkara ekonomi, membiarkan wabah pandemi kembali merebak ke Negara mereka akan semakin memukul mereka, tapi yang menjadi poinnya bukan di situ, melainkan karena ini adalah perkara nyawa.

Tapi apakah nyawa lebih penting daripada ekonomi? Secara pribadi orang-orang akan menjawab tentunya nyawa. Ekonomi mana bisa jalan kalo sudah tidak ada manusia lagi? Normalnya begitu, tapi bagi kapitalis korup yang terbiasa dengan hidup mewah-mewahan, mungkin punya banyak variabel lagi.

Ini sudah diperingatkan sejak Maret. Para pakar banyak mengkritisi bahwa kebijakan pemerintah yang lebih condong ke ekonomi ini sangat berbahaya. Akhirnya masuklah Indonesia tahap resesi. Namun setelah itu, keadaan justru semakin dilonggarkan. Informasi Covid-19 sudah tidak lagi diumumkan di siaran TV. Pariwisata, mall-mall, fasilitas umum kembali di buka. Rakyat dipersilahkan mengais rejekinya sendiri di tengah pandemi dengan syarat pakai masker dan jaga jarak.

Walhasil, sesuai prediksinya wabah semakin melebar. Bagai berada dalam sebuah kapal yang dimasuki air karena lubang, malah sibuk menimba air ke luar kapal dan menghiraukan lubangnya. Lubangnya semakin besar, air sudah mulai tidak bisa sekedar ditimba lagi, baru buka mata. Dari 2 orang, meningkat ke 90 orang, lalu seribu, lanjut ke 100 ribu, hingga akhirnya mencapai 200 ribu orang.

Dengan tambahan kasus yang terus meningkat hingga 3 ribu orang perharinya. Indonesia, perlahan namun pasti, melangkah menuju peringkat satu di Asia Tenggara sebagai Negara dengan kasus Covid-19 terbanyak. Secara akumulatif kasus Covid-19 sudah mencapai 200.035 jiwa (8/9).

Padahal sudah resesi, keadaan Indonesia malah semakin diperburuk dengan ditutupnya oleh 59 Negara. Indonesia bisa apa? Akhirnya baru keluar pernyataan “Kunci ekonomi kita agar baik adalah kesehatan yang baik” (akun youtube sekretariat Presiden 7/9). Wajar jika banyak yang berkomentar, “memangnya selama ini kemana saja?” Sudah jatuh ketiban tangga pula, begitulah gambarannya saat ini.

Wabah pandemi yang semakin tidak terkendali, di tambah jurang ekonomi yang terlihat semakin dalam. Yang diurusi malah masjid-masjid dan good looking yang radikal dan sertifikasi da’i. Padahal dana bos madrasah di potong.

Sejak awal sebelum masuknya Covid-19, sudah banyak pakar yang menyerukan lockdown. Hingga mulai masuknya virus solusinya yang diserukan tetap Lockdown.

Namun, tidak dilaksanakan dengan alasan tidak mampu. Memangnya di mana 1% yang menguasai 46% kekayaan Indonesia itu? Memangnya dimana dana-dana yang sudah dikembalikna para koruptor itu? Kenyataannya, Indonesia bukan tidak mampu, melainkan karena kekayaan itu terlanjur dikuasai oleh segelintir orang.

Pemerintah dengan paradigma kapitalismenya telah terbukti gagal dalam memberikan solusi di tengah wabah. Jika wabah terus bertambah, ekonomi bisa lebih parah. Yang dikhawatirkan ialah yang dari tahap resesi menuju depresi hingga great depretion (depresi besar), lalu dengan alasan itu jatuhlah Indonesia ke tangan Negara investor terbesar dan terpercaya Indonesia, yakni China.

Bahkan meskipun sudah terbukti gagal, PSBB tetap menjadi pilihan. Sudah bisa menebak ke depan Indonesia akan seperti apa?

Bisa saja jika tetap mengandalkan prinsip “invicible hand” atau tangan tuhan untuk keseimbangan pasar dalam kapitalisme. tapi ingat, “keseimbangan” yang dibicarakan itu sudah pasti bukanlah keseimbangan yang equivalen, melainkan seperti pendaki yang melangkahkan kakinya menuju puncak, selama berjalan dia tidak jatuh, tapi sudah berpindah dari titik ketinggan sebelumnya dan semakin dekat dengan puncak.

Indonesia seharusnya sudah lockdown sambil memastikan dengan benar, mana daerah hijau, kuning dan merah. Lalu pendistribusian kekayaan dijalankan, para pengusaha di Indonesia dengan kekayaan yang superpower harus membantu para rakyat sesuai yang dibutuhkan di setiap zona. Tinggalkan pinjaman hutang luar Negeri. Perkuat ekonomi sektor rill. Serta jangan lupakan doa para ulama. Dengan begitu, meski tertatih, perlahan Indonesia akan bangkit dari keterpurukannya.

Sayangnya itu hanya bisa terjadi jika sistem Khilafah yang diterapkan di Indonesia. tidak akan mungkin dilakukan dalam sistem demokrasi. Semua ini bergantung kepada kesadaran masyarakat intelektual secara khususnya dan masyarakat umum. Wallahu a’lam.

Penulis: Ibrahim
(Ketua Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kota Makassar)

Editor: IRP

Bagikan Artikel Ini:
IRP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *