Opini Pendidikan

Ospek: Wadah Senioritas yang Haus Hormat, Tabe’ Senior!

Bagikan Artikel Ini:

Lebootenews.com -OPINI- Selamat datang di dunia yang tentu akan berbeda dengan dunia sebelumnya yaitu masa SMU. Jika di sekolah menengah kedudukan guru di kelas lebih tinggi dari muridnya, maka di perguruan tinggi dosen dan mahasiswa mempunyai kedudukan yang setara dalam hal mengeluarkan pendapat.

Transisi dari siswa menjadi MAHAsiswa tentunya mengundang berbagai macam pertanyaan bagi siswa. MAHAsiswa selama ini dikenal sebagai sosok yang identik dengan kebebasan, keberanian, suka demo dan kritis. Paradigma inilah yang kira-kira membuat siswa suka berpikir yang enggak-enggak tentang mahasiswa. Namun, ada satu hal yang perlu diingat oleh MABA bahwa mahasiswa adalah corong perubahan.

Mahasiswa sebagai inti kekuatan pembaharu mempunyai kewajiban mengawal agenda perubahan menuju kearah yang lebih baik, jelas dan tegas. Selalu kritis, kreatif, objektif, rasional mengusung idealisme dan cerdas membangkitkan ide-ide progressif.

Selasa, 15 September 2020 yang lalu, setidaknya dunia pendidikan dibuat heboh sampai trending di Twitter, #IKATPINGGANGDIPERLIHATKAN #UNESA #ARYAWIGUNA, berawal dari beredar video proses ospek mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), menampilkan para senior yang sedang memarahi peserta ospek.

Karena diadakannya ospek secara daring, kejadian tersebut pun terekam dan beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, para senior membentak peserta saat salah satu peserta kedapatan tidak menggunakan ikat pinggang. Publik ramai merespon kejadian tersebut dengan nada sinis/negatif, hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menghimbau pimpinan perguruan tinggi memastikan kegiatan di lingkungan kampus bebas dari bullying atau perundungan dan kekerasan.

Itulah fakta secuil dunia kampus, setidaknya karena Corona bisa mengungkap kejadian offline dunia kampus saat ini yang tidak beres. Kecolongannya dunia kampus, setidaknya bisa menjadi pelajaran bahwa hal tersebut patut untuk didiskusikan. Sebab, tindakkan tersebut kerap kali menjadi kebanggaan, terkenal “sangar” di depan MABA misalnya.

Lantas, sampai kapan ini akan terjadi? Padahal mahasiswa adalah agend of change dan agend lainnya, faktanya mahasiswa (senior) sibuk eksistensi diri atau malah memilih apatis.

Sehingga jika ada yang mengatakan ospek, wadah senioritas yang haus hormat benar adanya. Sebab, fakta lapangan mengiyakan guyonan tersebut.

Seyogianya idealisme kampus diarahkan pada kualitas berfikir, kuat literasi, budaya diskusi dan kritis, serta peduli rakyat dan tugas-tugas lainnya. Namun faktanya, mahasiswa seperti ini diberangus dengan berbagai macam tuduhan/label.

Buat MAHAsiswa baru (MABA) yang lucu dan polos jangan mau dibodoh-bodohi oleh senior yang tak tahu diri, di suruh ini itu. Tapi, tidak semuanya senior seperti itu. Dunia kampus tidak seperti gambaran di sinetron melulu tentang percintaan. Kau akan menyimpulkan bagaimana kejamnya dunia kampus. Bagi penulis semua rasa beradu (ada manis, pahit, kecut dan asin).

Kesenioran tidak mesti ditunjukkan dengan kecongkakan dan tunduk sampai menyentuh tanah (tabe’ senior). Jika ospek Negeri ini, seperti sekarang tentu hanya akan mengajarkan generasi menjadi anarkis, keras, mental penjajah-pembebek, korup, dan gila eksistensi. Ospek semestinya menjadi wisata kampus dimana para senior menjadi Guide yang menjelaskan dan mengenalkan lingkungan kampus. Kalau ospeknya seperti sekarang maka wajar keluarannya bermental anarkis, kasar, tidak punya akhlak dan pencuri uang di dapur Negara.

Tumbuh suburnya perilaku negatif di atas tentu tidak lepas dari asas Negeri ini yang menganut ide sekulerisme. Kita lihat beberapa dekade moral sudah sedemikian parah memapar generasi. Pergaulan bebas, narkoba, LGBT, inses, praktik aborsi, pornografi-pornoaksi, atau budaya kekerasan, nampak kian lekat dalam kehidupan masyarakat hari ini. Rata-rata pelakunya adalah generasi terdidik, bahkan budaya kekerasan justru kian kerap terjadi di lingkup Pendidikan.

Alhasil, semua ini cukup memberi gambaran betapa pendidikan sekularistik yang telah lama diterapkan nyaris gagal membawa nilai-nilai kebaikan. Pendidikan selama ini hanya mampu mengasah skill dan kecerdasan, tapi nyaris gagal mengasah keluhuran adab dan ketinggian moral. Pemerintah memang telah mencanangkan apa yang disebut revolusi mental. Namun, ternyata arahnya tak jelas hendak ke mana.

Apalagi, demi dan atas nama membangun daya saing, penguasa hari ini cenderung kian fokus pada proyek-proyek pengembangan SDM yang siap kerja, siap berusaha, seolah-olah pendidikan hanya menjadi pabrik pekerja.

Oleh karenanya, umat semestinya waspada bahwa agenda sekularisasi pendidikan hakikatnya adalah untuk memuluskan penjajahan. Umat pun harus waspada bahwa dengan gencarnya arus sekularisasi ini generasi masa depan akan kian kehilangan pegangan, karena mereka makin dijauhkan dari Islam yang justru menjadi kunci kebangkitan.

Sejatinya mahasiswa Muslim adalah sosok pengusung idealisme sejati. Dalam hatinya tersimpan cita-cita besar untuk membangun peradaban Negeri menjadi lebih bermartabat, mulia dan berkemajuan.

Bahwa kebangkitan hakiki justru hanya bisa diwujudkan dengan Islam. Yakni dengan menegakkannya dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk di bidang pendidikan. Tidak lain di atas peradaban Islam, yakni di bawah naungan Khilafah ala minhajin nubuwwah. Wallahu a’lam.

*Salam Mahasiswa. Salam perubahan*.

Penulis: Ika Rini Puspita (Penulis Buku ‘Negeri 1/2’)

Bagikan Artikel Ini:
IRP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *