Hot News Opini Pendidikan

SKB 3 Menteri: Indonesia Semakin Sekuler!

Bagikan Artikel Ini:

Oleh: Melisa, S.Sos
(Aktivis BMI Makassar)

Lebootenews.com -OPINI- Aturan penggunaan kerudung bagi siswi non-Muslim disekolah menengah kejuruan SMKN 2 Kota Padang berhasil membuat 3 Menteri angkat bicara. Buntutnya berupa pelarangan bagi murid untuk tidak mengenakan seragam beratribut agama.

Aturan tersebut tercantum dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang penggunaan pakaian seragam dan atribut bagi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan sekolah yang diselenggarakan Pemerintah Daerah pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. SKB tersebut ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. “Pemerintah daerah ataupun sekolah tidak boleh mewajibkan ataupun melarang seragam dan atribut dengan kekhususan agama,” Kata Nadiem sebagaimana dikutip dari (Tribunnews.com, 3/2/2020).

Munculnya kebijakan tersebut mengundang banyak penentangan. Namun tidak sedikit pula yang acung jempol sebagai tanda setuju. Sebagaimana sekretaris umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan, pihaknya tidak mempersoalkan SKB 3 Menteri tentang seragam sekolah. Apalagi, persoalan itu tidak ada kaitannya dengan mutu pendidikan.

Soal SKB Tiga Menteri, itu bukan masalah besar. Di negara-negara maju, seragam tidak menjadi persoalan, karena tidak terkait dengan mutu pendidikan,” kata Mu’ti, kepada Sindonews, (5/2/2021).

Penetapan kebijakan yang disepakati oleh ke 3 Menteri, memperlihatkan kecendrungan pihak yang anti Islam dalam melawan arus Islamisasi. Konteks yang sama juga pernah terjadi di tahun 1978 terkait kebijakan yang dikeluarkan oleh Daoed Joesoef selaku Menteri pendidikan dan kebudayaan pada masanya. Daoed Joesoef dikenal karena kebijakan melarang pemakaian jilbab di sekolah-sekolah umum. Para siswa putri yang tetap bertahan memakai jilbab menjadi korban. Jika si siswa putri itu kekeh dengan jilbabnya, dia harus pindah ke sekolah agama (madrasah) atau di keluarkan dari sekolahnya.

Di masa Orde Baru, jilbab memang dicap eksklusif.

Menurut Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016), Daoed Joesoef disebut sebagai orang yang tidak mendukung kebijakan Soeharto yang bersahabat dengan Islam Syariah. Dalam hal ini, Daoed Joesoef tentu kena cap sekuler (yang memisahkan agama dengan Negara), dan bisa jadi dicap anti-Islam, meski dia sendiri orang Islam. Belakangan, ketika Soeharto mulai merangkul kelompok Islam, jilbab pun diperbolehkan, bahkan menjamur hingga sekarang.

Melihat hari ini bagaimana orang berbondong-bondong mengenakan kerudung, tidak hanya menggunakan kerudung biasa, namun kerudung syar’i yang longgar dan menutup bagian dada juga sangat diminati. Namun persentase Muslimah kerudungan yang terkategori meningkat, jelas tidak sejalan dengan aturan pejabat Negara yang tercantum dalam SKB.

Masalah kerudung di SMKN 2 Padang ini sebenarnya hanya masalah kecil yang kemudian dibuat runyam. Sementara disaat yang bersamaan banyak kasus pendidikan yang semestinya lebih di prioritaskan, semisal masalah pendidikan daring selama Covid-19 yang membutuhkan solusi, semestinya inilah yang patut diberi bayak perhatian. Bukan malah sibuk memojokkan Islam dan aturannya dalam hal kerudungan.

Seperti diketahui, bahwa kerudung merupakan bagian penyempurna dalam menutup aurat. Menutup aurat dalam Islam adalah wajib dan harus dilakukan hingga warna kulitnya tertutup. Seseorang tidak dapat dikatakan melakukan “satr al-‘aurah” (menutup aurat) jika auratnya sekedar di tutup dengan kain atau sesuatu yang tipis hingga warna kulitnya masih tampak kelihatan.

Dalil yang menunjukkan ketentuan ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Ra. terkait Asma’ binti Abu Bakar seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Dalam hadits ini, Rasulullah saw. menganggap bahwa Asma’ belum menutup auratnya meskipun Asma’ telah menutup auratnya dengan kain transparan. Oleh karena itu, Nabi saw. berpaling seraya memerintahkannya menutup auratnya, yaitu mengenakan pakaian yang dapat menutupi.

Pakaian yang telah ditetapkan oleh syariat Islam bagi perempuan ketika ke luar di kehidupan umum adalah khimar (kerudung) dan jilbab (baju kurung). Dalil yang menunjukkan perintah ini ada dalam QS. al-Nur: 31 “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” Ayat ini berisi perintah dari Allah Swt. agar perempuan mengenakan khimar (kerudung) yang bisa menutup kepala leher dan dada.

Sayangnya aturan Islam hari ini tentang wajibnya mengenakan kerudung ataupun menutup aurat dengan sempurna masih belum ditaati oleh sebagian Muslimah. Ada yang menganggap bahwa menutup aurat dengan sempurna hanya pada saat sholat, selepas itu bebas menggunakan busana apa saja. Hal ini di picu dari sistem yang di junjung tinggi yakni sekularime, memisahkan agama dari kehidupan. Sementara dalam Islam tidak ada pemisahan antara agama dari kehidupan, yang ada hanya berpegang teguh pada syariah Islam yang Kaffah. Oleh karena itu, tidak ada pembenaran untuk semakin mensekulerkan Indonesia.

Wallahu a’lam.

Penulis: Melisa, S.Sos

Bagikan Artikel Ini:
IRP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *