Hot News Opini

Kala 14 Februari Merujung Tragedi

Bagikan Artikel Ini:

(Catatan Sederhana Memperingati Hari Valentine-Day)

Oleh: Ika Rini Puspita

Setiap tanggal 14 Februari, senantiasa selalu digelar hari Valentine’s Day. Perayaan ini pun diidentikkan dengan hari kasih sayang. Pada umumnya banyak pemuda berlomba-lomba merayakan hari kasih sayang bersama orang yang dicintainya pacar bahkan odo’-odo’nya sekalipun. Mereka saling menukar hadiah serta melakukan aktivitas yang mengarah pada seks (zina) seperti ciuman dan lain sebagainya. Ironisnya, aktivitas seperti ini pelaku utamanya mereka yang mengaku Muslim atas nama cinta.

Di hari yang dikenal sebagai hari kasih sayang ini ternyata menuai tragedi. Perihal rasa sayang, suka dan cinta ialah suatu kewajaran yang dimiliki oleh setiap manusia. Rasa ini merupakan fitrah dan lahir dari naluri seksual (gharizatu an-nau’) bisa terangsang dan menuntut untuk dipenuhi. Namun, jika pemenuhanya salah maka ini yang mesti untuk diluruskan.

Valentine Menuai Tragedi

Jika kita mencermati fenomena Valentine seluruh dunia akan kita temukan aktivitas yang mengarah pada perzinahan. Bahkan aktivitas zina kini pun sudah dianggap hal yang biasa seperti pegangan tangan, ciuman dan hamil di luar nikah. Padahal dulunya dianggap sesuatu yang tabu. Namun, kini dianggap suatu kewajaran bahkan dipertontonkan.

Berdasarkan pantauan dari beberapa daerah permintaan kondom menjelang Valentine meningkat drastis. Parahnya penomena ini terjadi hampir disegala daerah. Fakta lain pernah disampaikan oleh dr. Andik Wijaya, Rep. Med, seorang seksolog dari Surabaya. “Sekarang V-Day nuansanya cenderung romantis dan erotis”.

Terbukti kasus yang terjadi di Makassar ditemukan sebanyak 15 pasangan mesum terjaring razia malam Valentine di sejumlah hotel di Makassar. Ke-15 pasangan ini tergolong muda-mudi ini, diamankan saat berduaan di dalam kamar dan tidak membawa buku nikah serta ditemukan beberapa alat kontrasepsi, tisu magic dan obat kuat (DetikNews, 14/02/2016). Fakta serupa seperti yang terjadi di Gorontalo. Pasalnya, sehari menjelang Valentine Day, kondom dan tissue magic menjadi barang yang laris manis terjual di sejumlah tempat, baik apotek dan mini market yang beroperasi 1×24 jam (Tatiye.id, 12/02/2021) Kemudian di daerah lain di temukan 19 pasangan tak resmi diciduk Satpol PP di Kota Surabaya (Jatim.suara.com, 15/02/2020).

Tak hanya itu malam Valentine-Day alias hari kasih sayang selain pesta seks pesta miras pun kerap dilakukan. Bahkan stok miras harus ditambah terutama jenis anggur merah. Selain minol impor dan lokal, minol oplosan pun turut diburu. Jika hari biasanya, penjual tuak hanya membuat 1 jerigen, saat hari valentine meningkat drastis hingga 1 drum (jpnn.com, 14/02/2016).

Kebebasan yang digadang-gadang sebagai solusi dalam bermasyarakat nyatanya tidak sesuai harapan, tragedi pun bermunculan akibat sistem sekuler-kapitalis. Katanya bebas berpendapat-berkumpul, tapi ujung-ujungnya dibungkam dengan UU ITE -perppu ormas. Katanya keadilan tidak pandang bulu faktanya keadilan tajam ke bawah tumpul ke atas. Katanya kebijakan hanya untuk rakyat, nyatanya dari, oleh dan untuk para kapital. Dan masih banyak katanya yang lain. Kebebasan tersebut semacam delusi dan yang ada hanya kesengsaraan!

Kebebasan bertingkah laku misal, dengan pakaian seadanya ditambah semakin liarnya pergaulan laki-perempuan justru mendorong kaum Adam melakukan hal tak senonoh. Dimana hari Valentine dijadikan pembenaran atas nama cinta untuk melakukan aktivitas zina dan free seks. Dari sisi lain budaya rusak tersebut yang bertujuan untuk menghancurkan generasi muda.

Inilah salah satu alasan mengapa sebagai seorang Muslim kita wajib menolak perayaan V-Day. Bukan hanya sikap tegas dari norma agama, adat istiadat ketimuran dan juga hukum Islam untuk mencegah tragedi yang ditimbulkannya. Sebab, aktivitas Valentine identik dengan hura-hura yang akan mengarahkan pada zina. Menodai kesucian cinta dengan sebuah pemuasan nafsu belaka. Merampas hak hingga muncul pembantaian bayi tak berdosa (baca: aborsi). Cinta sudah semestinya menjaga, bukan malah merusak atau menodai kesucian cinta. Cintamu palsu cesss!

Sistem sekuler dengan kebebasannya menjadikan umat latah, tentu karena didukung sistem. Maka untuk meminimalisir eksploitasi atas nama kebebasan, wajib bagi kita menjadikan aturan Islam sebagai tolak ukur. Faktanya, demokrasi dengan kebebasannya membuat kita semakin jauh dari ajaran Islam. Ingkarnya kita kepada syariah Islam menimbulkan kesengsaraan hidup, seperti sekarang. Karena kita dengan pongahnya mau mengatur kehidupan sendiri, kalaupun memakai aturan Tuhan ya seperlunya, selebihnya aturan Tuhan dengan mudah kita campakkan.

Sesungguhnya Islam mampu menempatkan perasaan cinta pada manusia ditempat seharusnya. Islam tidak membunuh fitrah manusia. Namun, tidak membiarkannya sampai kebablasan. Seyogyanya seorang Muslim wajib menjadikan Islam sebagai standar untuk menentukan baik dan buruk suatu perbuatan. Berdasarkan fakta sejarah Valentine dari referensi yang ada bertentangan dengan akidah Islam. Betul kata Rasulullah beribu-ribu tahun yang lalu dapat kita saksikan di zaman sekarang tanpa sadar kita bersikap latah. “Kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga mereka masuk ke lubang biawak sekalipun kalian akan mengikuti”… (HR. Muslim).

Wallahu a’lam.

Penulis: Ika Rini Puspita

Bagikan Artikel Ini:
IRP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *