Opini Sastra

Begitulah Demokrasi dan Kapitalisme Kita

Bagikan Artikel Ini:

Oleh: Aji Sukman

Lebootenews.com- Kapitalisme memang menjadi rahim, ladang, kandang, atau pabrik yang pas untuk uang beranak pinak, sekaligus kapitalisme adalah segalanya untuk uang menjadi kuasa.

Sedangkan demokrasi, adalah media di mana orang-orang liar bisa tumbuh menjadi bengis dan semakin liar. Bahkan di dalam demokrasi, orang-orang dungu bisa tak terkira kebengisannya oleh sebab kekuasaan dibolehkan untuk ditungganginya.

Maka dengan eksisnya kapitalisme-demokrasi hari ini, menjadi petaka bagi cindekia yang lurus, orang-orang baik yang diperalat serta dipaksa menjadi boneka yang semisal dengan Annabelle. Ia dikendalikan oleh roh jahat (baca:tangan ajaib. Tangan tak terlihat, atau dalam penyebutan lain dari Penulis, disebut simpul sistem yang terorganisir).

Celakanya, ini semua berjalan terus hanya untuk menghabisi yang lemah, kemudian merampok segala kebahagiaan yang ada untuk dikunyah oleh kelompoknya sendiri kemudian dimuntahkan untuk dinikmati para penjilatnya yang bodoh dan menyedihkan. Bangke!

Eksistensi uang menjadi alat propaganda para globalis sekaligus untuk mengontrol pembagian kekayaan di setiap Negara yang telah dikencingi sebagai simbol area kekuasaannya, termasuk untuk memutuskan kapan Negara tersebut dikategorikan berkembang atau maju.

Lewat demokrasi, para globalis menyusupkan Undang-Undang untuk tetap mengontrol pemerintahan serta seluruh kebijakan agar hukum permintaan dan penawaran tetap berada pada kuasa kapitalisme.

Seiring berjalannya waktu, ketika masyarakat sudah dibimbing menjadi masyarakat yang kapitalis, maka semua akan sangat mudah diutak-atik. Seluruh persendihan suatu Negara dapat dikontrol, kapan menjadi lemah, dan kapan ia menjadi kuat.

Sebab, mekanisme pasar akan mengatur segalanya, kapan Negara ini mengalami krisis moneter, naik turunnya statistik denyut perekonomian, terjun bebasanya nilai saham di pasar modal atau menukik ke atas, bahkan untuk menentukan kapan Negara itu bubar, semua berada dalam cengkraman para elit globalis lewat dua instrumennya itu yakni kapitalisme dan demokrasi.

Maka wajarlah, jika seluruh sumber daya apa saja di suatu Negeri itu dirampok habis-habisan oleh para globalis dan rakyatnya tak bisa berbuat apa-apa. Sebab semua telah diatur lewat Undang-Undang dan boneka-bonekanya.

Kenapa bisa lewat undang-undang untuk merampok kekayaan Negara? Karena dalam kapitalisme sudah diajarkan untuk harus memenuhi kebutuhan.

Ironisnya, dalam kapitalisme, tak mengenal yang namanya “hanya sebatas keinginan” melainkan yang ada hanya diksi kebutuhan. Dan kebutuhan ini harus dipenuhi.

Bahkan Ketika anda butuh sepuluh gunung, maka silakan miliki saja sepanjang anda punya uang untuk membelinya.

Lah, kok gunung bisa jadi milik pribadi? Nah. Itu dia, kenapa mesti ada demokrasi sebagai sistem politik di Negeri ini untuk membungkam mulut para penentang kepentingan.

Karena dalam demokrasi, salah satu asas yang di bawanya adalah kebebasan berkepemilikan. Ketika orang tadi mau membeli gunung tersebut, sementara memang ia punya uang, maka pelarangan terhadap transaksi tersebut adalah sebuah pelanggaran yang besar. Melanggar hak asasi manusia.

Dalam kapitalisme-demokrasi, kemerdekaan yang hakiki adalah ketika kita bebas menguasai apa saja yang kita mau. Sepanjang kita punya alat untuk menguasainya yakni, uang.

Nah. Setelah kita semua tahu, bahwa merampok seluruh kekayaan Negara, dalam kapitalisme demokrasi itu sudah menjadi wajar, maka saat ini di tahun 2021 muncul lagi satu fakta baru yang mencengangkan.

Pemilik akun Facebook Mustajab Abu Faris memposting:

Di Negeri penyamun, bukan hanya tabungan rakyat saja yang dirampok, tapi partai jg (juga),” Ungkapnya di akun facebook Mustajab Abu Faris miliknya, Sabtu, (06/03/2021).

Seperti itulah fakta-fakta kondisi dalam alam raya demokrasi-kapitalisme. Apa saja bisa terjadi. Yang haram bisa jadi halal, dan yang halal bisa jadi haram. Termasuk juga orang-orang alim bisa jadi bejat, dan yang bejat makin bejat..(*)

Bagikan Artikel Ini:
IRP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *