Sastra

Resensi Buku Syaneem: Keluarga, Persahabatan dan Sejarah

Bagikan Artikel Ini:

Resensi oleh Fitri Ayu F.

Judul : Syaneem
Penulis : Khaeriyah Nasruddin
Penerbit : Shofia
Cetakan : I, Januari 2021

Lebootenews.com -RESENSI BUKU- Ada tiga hal yang bisa saya tarik dari novel Syaneem yaitu tentang keluarga, persahabatan dan sejarah. Khaeriyah Nasruddin berhasil meramu ketiganya secara apik. Dengan bahasa yang ringan, pemilihan diksi yang hati-hati, membuat pembaca menikmati alur cerita tanpa rasa bosan dan monoton.

Meskipun ini novel perdana penulis, tetapi Khaeriyah begitu lihai memainkan kata-kata dengan tokoh yang kuat, alur cerita yang mengalir dan setting tempat sejarah Islam Turki yang mampu membawa pembaca ikut jalan-jalan bersama tokoh. Tidak heran, sebab penulis pernah menjadi pemenang pertama Sayembara Penulisan Buku Naskah Pengayaan Kategori Pelajar Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional dengan judul naskah Risalah Kunang-Kunang.

Novel ini bercerita tentang Syaneem yang jatuh cinta dengan sejarah Islam Turki lalu memutuskan untuk mengunjungi negara tersebut. Perjalanan yang seharusnya menyenangkan berubah menegangkan ketika ia bertemu Aygul, perempuan Turki yang putus asa dengan hidupnya. Lewat Aygul, makna persahabatan diuraikan dengan berbeda, bahwa sahabat sejati adalah ia yang membawa pada kebaikan dan kedekatan pada Sang Pencipta.

“Bukan tugas masa lalu mengubur mimpi masa depan. Percayalah, kita selalu punya kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Sekelam apapun itu, seberat apapun itu, Allah always beside us.” (Syaneem, Hal. 33)

Perjalanan Syaneem yang hendak mengulik lebih dalam tentang sejarah Islam juga mempertemukannya dengan Gokhan, fotografer yang pada akhirnya menjadi tour guide. Lewat penuturan laki-laki itu, sejarah Islam di Turki semakin terang-benderang. Penulis pun berhasil membangun hubungan Syaneem dan Gokhan dengan begitu manis tanpa mengesampingkan rambu-rambu syariat. Melalui Gokhan, arti keluarga disampaikan dengan sangat menyentuh. Bahwa keluarga adalah tempat pulang, sesakit bagaimanapun kenangan menghancurkan. Sebab harta yang paling berharga adalah keluarga. (Jangan nyanyi, ya :D)

“Bila kamu ingin meramaikan hatimu yang sepi maka temuilah keluarga.” (Syaneem, Hal. 212)

Dan daya tarik paling kuat dari novel ini adalah sejarah Islam. Pembaca akan diajak menyusuri Tembok Konstantinopel, menikmati Tarian Sema, memandangi Turki dari puncak Menara Galata, dan merasakan keindahan Golden Horn. Menadabburi sejarah bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi menguatkan iman. Jejak kejayaan Islam menjadi bukti bahwa bisyarah Rasulullah SAW. itu adalah janji yang pasti akan terjadi. Bahwa dengan keimanan yang kokoh, apapun bisa takluk, bi idznillah.

“Sejarah Islam membuatku selalu ingin hidup lebih lama.” (Syaneem, hal. 95)

Syaneem, siapapun yang membaca novel ini, saya yakin ia akan jatuh cinta dengan sosoknya. Dengan genre religi-romansa, perjalanan Syaneem dipenuhi nasihat-nasihat untuk mengembalikan segala kepahitan hidup padaNya. Tak ada tempat bersandar pada setiap ujian yang Allah berikan, selain Dia. Sebab segala sesuatu di alam semesta memiliki hubungan dengan Allah.

Meskipun di beberapa bagian terdapat kesalahan tanda baca, tetapi tidak mengurangi keindahan novel ini. Semuanya tertutupi dengan alur cerita yang menarik dan kemampuan berkisah dari Khaeriyah Nasruddin. Oleh karena itu, novel ini sangat saya rekomendasikan untuk kalian yang belum tahu dan ingin tahu tentang sejarah Islam di Turki tetapi malas membaca buku sejarah dengan bahasa yang berat. Syaneem adalah paket komplit; cerita roman, sejarah, keluarga, persahabatan hingga pencarian jati diri. Untuk novel ini, bintang 9/10. Selamat membaca dan selamat menyusuri sejarah Islam di Turki.

Bagikan Artikel Ini:
IRP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *