Opini

Pencabutan Perpres Investasi Miras dan Harapan Negeri Bebas Miras

Bagikan Artikel Ini:

Oleh: Saima (Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)

Lebootenews.com- Hampir pasti ini merupakan pernyataan yang menghebohkan dan ini adalah omong kosong untuk hukum tarik-menarik yang telah beredar di industri-industri pengembangan perekonomian selama bertahun-tahun. Untuk membongkar yang mendalam tentang tipe omong kosong ini bisa kita lihat dari berbagai pernyataan-pernyataan pemerintah, seperti halnya dengan pernyataan presiden Joko Widodo (Jokowi) yang semula memberikan izin investasi miras.

Lalu kemudian presiden Jokowi mencabut Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Poin yang menjadi sorotan sejumlah pihak adalah soal investasi miras (economy.okezone.com, 07/03/2021).

Perlu kita luruskan bahwasannya pencabutan lampiran perpres investasi miras tidak bisa menjamin kita akan bebas miras karena memang sedari awal miras telah menggerogoti generasi dan membuat candu yang tanpa sadar menjadi pembiasaan memanjakan diri yang sebenarnya bisa menjerumuskan kita ke hal-hal kriminalitas serta menghancurkan masa depan generasi.

Miras disebut memang memiliki manfaat, mulai dari khasiatnya dalam menghangatkan badan saat cuaca dingin. Dalam kaitannya dengan isu saat ini, miras mungkin dapat meningkatkan investasi hingga menyerap tenaga kerja. Namun mudharatnya lebih besar dibandingkan dengan manfaatnya.

Kemudian Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan, dicabutnya lampiran ketiga dalam Perpres Nomor 10 tahun 2021 tentang Minol ini membuktikan jika Presiden Joko Widodo merupakan pemimpin yang demokratis. Karena Presiden Jokowi masih mau mendengar masukan dari masyarakat selama bersifat konstruktif (Economy.okezone.com, 07/03/2021).

Inilah sebuah permulaan bukti dan pertanda mereka membela sesama elit, memanipulasi pemahaman kita sedemikian halus. Nah jika kita seorang pembaca yang jeli, kita pasti akan menangkap sebuah kontradiksi yang halus disini. Mereka mengembangkan sistem ini hanya untuk memenuhi hasrat mereka sendiri tanpa memihak kepada kesejahteraan rakyatnya. Dan ternyata, sangatlah susah untuk memprogramkan fungsionalitas pemimpin negara yang sebenarnya seperti apa.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Kebijakan Publik Danang Girindrawardana mengaku, pihaknya terkejut dengan adanya upaya negara untuk mengatur pelarangan minuman berakohol. “Negara sepertinya mencampuradukkan antara masalah ekonomi dengan masalah sosial. Fenomena sosialnya adalah banyaknya korban jatuh akibat minuman oplosan. Minuman oplosan jauh berbeda dengan minuman alkohol resmi yang dapat dibeli di hotel atau supermarket,” kata dia dalam perbincangan bisnis yang diadakan di Restoran Salero Jumbo Beritasatu.com (21/9).

Ketika investasi dan valuasi menyalip hasil aktual, ketika cukup banyak uang yang terperangkap di dalam kantong segelintir para elit. Kita tidak bisa mengharapkan apa-apa. Kini kita tahu pasti apa yang tidak bisa kita harapkan: kedamaian, ketenangan serta panji-panji agama akan tetap terkungkung di dalam sistem yang kita anut saat ini.

Selain itu harapan negeri bebas miras menjadi lebih susah untuk dicari di tengah-tengah belantara perekonomian yang ambruk dan kerugian yang nyata melanda dimasa pandemi karena memang pemasukkan dari investasi miras lebih besar serta selama kita hidup di sistem kapitalis-sekuler. Selama itu, kita akan tetap terperangkap ke lubang yang sama yaitu penderitaan serta pencabutan lampiran perpres investasi miras tidak akan berarti apa-apa. Tanpa dibarengi dengan penghapusan regulasi lain yang mengijikan produksi, distribusi/peredaran dan komsumsi miras dengan gagasannya memberlakukan kebolehsalahan (falsifiability) tanpa memperhatikan label halal-haram ataupun sebaliknya haram-halal serta penting untuk dicatat bahwa para pemimpin di negeri ini lebih mengutamakan keuntungan ketimbang kemaslahatan bagi umat.

Untuk mengatasi hal-hal seperti ini dan memastikan kita akan bebas miras adalah dengan seruan Islam yang sudah jelas dan seruan Islam itu adalah untuk penerapan Islam secara Kaffah. lalu kemudian Sebagai Muslim kita punya iman bahwa sistem Islam di bawah naungan Khilafah adalah sistem terbaik. Kita semua harus mengenggam keyakinan dan nilai-nilai berdasarkan iman.

Ketika Dakwah Islam pertama kali telah disampaikan, miras sudah tersedia dan sudah sering dikonsumsi. Sehingga awalnya, Muslim diberitahu dalam al-Qur’an bahwa mereka hanya tidak diperbolehkan beribadah sholat dalam keadaan mabuk.

Allah berfirman dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat 43 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,”

Ingat, Kita memperoleh kepercayaan diri dari seberapa lihai kita menghayati nilai-nilai kita (atau seberapa kita menguatkan narasi-narasi kita tentang identitas sebagai seorang muslim). Seorang Muslim mengembangkan nilai-nilai berdasarkan prinsip-prinsip abstrak (al-Qur’an dan as-Sunnah) dan akan memperoleh kepercayaan dirinya dari seberapa kuat ia menempelkan pada prinsip-prinsip tersebut. Allah Swt. juga mengatakan minuman keras adalah perbuatan syaitan. Sehingga harus dijauhi perbuatannya bagi seorang Muslim. Allah Swt. berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 90:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Wallahu a’lam.

Bagikan Artikel Ini:
IRP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *