Opini

Maksimal Taat, Tanpa Media Maksiat di Bulan Suci

Bagikan Artikel Ini:

Oleh:Khaerati said
(Praktisi pendidikan)

Lebootenews.com -OPINI- Dalam satu tahun terdapat dua belas bulan, diantara dua belas bulan yang ada ada satu bulan istimewa bagi kaum Muslimin bulan itu adalah bulan Ramadan. Dalam hitungan hari bulan mulia itu akan segera menghampiri. Bulan yang kedatangannya disambut dengan senyum bahagia dan harapan akan memetik banyak kebaikan yang tersedia di dalamnya, bulan yang menjadi trening super untuk menjadi pribadi yang lebih takwa selepasnya.

KPI sebagai salah satu lembaga pengawas penyiaran negeri ini juga turut menyambut bulan Ramadhan yang akan segera tiba, dengan mengeluarkan surat edaran untuk digunakan sebagai panduan pelaksanaan siaran selama bulan Ramadhan. Hal ini dilakukan KPI agar lembaga penyiaran dapat mengkondisikan siarannya selama bulan Ramadan agar kaum muslimin bisa beribadah denga khusyu.

Panduan penyiaran yang tercantum dalam Surat Edaran Nomor 2 tahun 2021 tentang Pelaksanaan Siaran Pada Bulan Ramadan. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menegaskan, selama bulan Ramadan 2021 siaran televisi diperketat. Lembaga penyiaran diminta untuk tidak menampilkan muatan yang mengandung lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), hedonistik, mistik/horor/supranatural, praktik hipnotis atau sejenisnya.

KPI juga menghimbau untuk tidak menampilkan muatan yang mengeksploitasi konflik dan/atau privasi seseorang, bincang-bincang seks, serta muatan yang bertentangan dengan norma kesopanan dan kesusilaan (Deskjabar.com, 2/4/2021). Langkah KPI untuk mengeluarkan surat edaran terkait penyiaran selama Ramadhan tentu perlu kita apresiasi, setidaknya masih ada upaya yang bisa diambil untuk mencegah liarnya konten media yang sampai ke masyarakat selama bulan Ramadhan. Namun, pelarangan konten-konten sebagaimana yang tertera dalam surat edaran KPI selama bulan Ramadhan dan berlaku hanya pada bulan Ramdan, menunjukkan betapa negeri ini telah terjajah dengan pola pikir sekularisme. Dimana agama memiliki peran dan makna yang semakin sempit. Menempatkan agama hanya pada aktivitas ibadah ritual semata. Contoh sasaran sekularisme adalah memberikan pola terstruktur kepada bahwa Bulan Ramadan adalah fokus umat Islam beribadah, dan meningkatkankan ketakwaan kepada Allah sedang bulan lainnya adalah jalan tol kemaksiatan.

Ketakwaan tidaklah dibangun sehari sebulan atau setahun ibadah, Tapi sejak Manusia berikrar tiada illah selain Allah dan Muhammad Rasul utusan Allah. Sejak saat itu konsekuensi keimanan telah melekat pada diri seorang muslim. Karena penerapan sekularismelah yang akhirnya mereduksi peran agama. Bulan Ramadan adalah wadah untuk melatih diri agar benar-benar melakukan ketaatan sempurna hingga mencapai derajat muttaqin. Dan prosesnya tidak cukup hanya sebulan tapi perlu kontiniu dan konsisten dalam ketaatan.

Jika kaum muslimin serius ingin mempertahankan ketaatan maka tidak boleh berpuas diri hanya dengan pelarangan konten maksiat hanya pada bulan Ramadhan semata, tapi juga sebelas bulan lainnya.
Tiapa tahun menjelang ramadan selalu ada upaya untuk menjaga tayangan di media nasional, namun ternyata tidak mampu menjadikan media memberikan tayangan berkualitas yang mendukung ketaatan. Bulan Ramadhan kontes menyanyi, modeling, sinetron dengan roman picisannya tetap berlanjut hanya sedikit dipoles agar tampilannya nampak Islami, tapi kontennya jauh dari defenisi Islami. Terus bagaimana berharap suasana khusyu ibadah akan terwujud di tengah masyarakat?

Disinilah korelasi betapa umat hari ini butuh terhadap sistem Islam, sitem yang benar-benar mendukung suasana Iman terjaga. Akidah sekuler hanya menempatkan iman dan takwa secara temporal. Padahal Mewujudkan takwa itu haruslah sistematis. Dibutuhkan peran negara, pemimpin, masyarakat dan individu.

Dalam kontes Negara dalam Islam, peran Negara tak sekedar memberikan jaminan terpenuhinya sandan,pangan dan papan di tengah masyarakat, tapi juga memberikan perlindungan atas panasnya api neraka dan peran itu berlangsung tidak hanya sekedar pada bulan Ramadan saja. Negara tidak akan memberikan ruang tampilnya tontonan yang akan menjerumuskan masyarakat dalam maksiat. Media dalam Islam adalah wadah menyampaikan dakwah dan edukasi ke tengah-tengah masyarakat. Dalam negara khilafah ketakwaan akan dijaga sepanjang hayat.

Negara Islam atau Khilafah punya mekanisme dalam menjaga ketaatan umat , melalaui mekanisme pembinaan individu-individu muslim dengan penanaman akidah Islam melalui pendidikan formal maupun informal, Memastikan di tengah masyarakat menjalankan aktivitas dakwah sehingga kontrol masyarakat berjalan dengan baik, Negara yang menerapkan syariah hukum Islam akan memberikan sanksi tegas kepada siapa saja yang melanggar syariah Islam, termasuk kepada mereka yang menampilkan konten media dengan muatan maksiat.

Sudah saatnya Islam mengatur kehidupan kita, mari menyambut Ramadan dengan mengencangkan upaya terwujudnya sistem Islam yang akan memberikan perlidungan dalam ketaatan secara Kaffah. Wallahu a’lam.

Bagikan Artikel Ini:
IRP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *